training fellowsip aji kendari

AJI Kendari Gelar Training Jurnalistik Lingkungan

AJI Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari, Sabtu (18/4), kembali menggelar training dan fellowship jurnalistik lingkungan bagi wartawan se Sultra.

Kegiatan yang diikuti sekitar 20 wartawan dari berbagai media massa lokal di enam kabupaten/kota dipandu oleh para pemateri yang kompeten di bidangnya, diantaranya Direktur LSM Komnasdesa-Sultra, Imanche Al Rachman dan Harry Surjadi mantan Wartawan Harian Kompas.

Dalam paparannya, Imanche Al Rachman mengupas seputar kondisi lingkungan dan politik sumber daya alam di Indonesia dan Sulawesi Tenggara. Serta pentingnya peran masyarakat sipil seperti LSM dan wartawan mengawal advokasi komunikasi lingkungan sebagai upaya menyelamatkan lingkungan dari eksploitasi yang berlebihan.

“Perlu senergi yang strategis dari masyarakat sipil mengawal isu-isu lingkungan mengingat kondisi lingkungan kita yang kian terdegradasi,”katanya.

Sementara Harry Surjadi menekankan kemauan dan independensi yang kuat dari para jurnalis untuk terus menyuarakan isu-isu lingkungan di tempat mereka bekerja dalam rangka mengkampanyekan masalah lingkungan secara luas dan berkelanjutan melalui pipa informasi.

Sumber : Suarakendari.com

AJI Desak Polisi Utamakan Laporan Wartawan Korban Kekerasan

Usai mengadukan tindak kekerasan yang menimpa dirinya ke kepolisian, Yosetiawan lantas dilaporkan balik oleh ketua DPC PAN Bekasi Utara, dengan tuduhan pencemaran nama baik. “Polisi harus melakukan penindakaan lex spesialist karena jelas tindakan yang dilakukan pelapor terhadap korban ada unsur pelanggaran terhadap UU Pers,” kata Ketua Umum AJI Suwarjono saat dihubungi Tempo melalui sambungan telepon, Selasa, 7 April 2015.

Jurnalis, menurut Suwarjono, dalam melakukan tugasnya audah jelas mendapat perlindungan sesuai dengan Undang-undang Pers. “Jurnalis bisa mengadukan mereka yang menghalang-halangi bekerja karena dengan asas pelanggaran terhadap Pasal 18 UU Pers,” kata dia.

Menurut Suwarjono, dalam Pasal 18 ayat 1 Undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers mengatur tentang ancaman pidana yaitu setiap orang yang melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan (3) dipidana dengan penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta.

“Jangan sampai proses hukum ini dibolak-balik. Mereka bersalah malah mengadukan balik. Ini ranah pidana baiknya ada fakta dan faktanya cukup jelas sepanjang fakta bisa dan harus diselidiki,” kata Suwarjono.

Melihat kondisi ini, menurut dia, AJI mendesak kepolisian untuk mengedepankan penindakan atas laporan pindana yang dilakukan Yosetiawan sebagai korban. “Kami mendesak kepolisian mengusut siapa pemukul korban, bukannya menerima dan memverifikasi atau malah menerima pengaduan baru,” ucap Suwarjono. “Pelaporan tindak kekerasan dan pelanggaran UU Pers harus didahulukan. Ini jadi terkesan korban malah akan menjadi yang dipidanakan,” kata Suwarjono.

Randy Yosetiawan Priogo, 27 tahun dipukuli oleh tiga orang tak dikenal di sebuah rumah makan di Jalan Serma Marzuki, Kecamatan Bekasi Selatan, pada 19 Februari 2015, pukul 17.00 WIB. Saat itu, wartawan Harian Radar Bekasi tersebut bertemu dengan Ketua DPC Bekasi Utara, Iryansyah dan ketua DPD Kota Bekasi, Faturahman.

“Saya diundang, mereka ingin klarifikasi berita,” kata Randy kepada Tempo, Jumat, 20 Februari 2015. Berita yang dimaksud ialah berjudul “DPC Bekasi Utara Sebut Pimpinan DPD Masa Bodo”, edisi 18 Februari 2015.

Hanya berselang beberapa menit kemudian, tiga orang tak dikenal tiba-tiba mengeroyok Randy. Ia melihat kalau ketua DPD memberikan isyarat kepada tiga orang pelaku pengeroyokan sebelum insiden tersebut. “Saya dijebak, ini jelas ada keterkaitannya dengan pemberitaan,” kata Randy.

Padahal menurut Randy, sebelum berita dimuat, dia telah melakukan verifikasi data dan konfirmasi ke sejumlah narasuber yang kompeten. Randy menjadi korban penganiayaan hingga mengalami luka memar di wajah, lengan, serta punggung. “Saya dipaksa menyerahkan KTP (Kartu Tanda Penduduk),” kata Randy.

Atas kejadian itu, Randy melaporkan kasusnya ke Kepolisian Resor Kota Bekasi dengan nomor LP/278/K/II/2015/SPKT/Resta Bekasi Kota

AJI dan IJTI Kutuk Kekerasan di Studio SBO TV Surabaya

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, mengutuk keras aksi penyerangan yang terjadi pada Kamis malam 16 April 2015 itu.

Ketua Umum AJI Indonesia, Suwarjono, mengatakan penyerangan dan pemukulan terhadap narasumber dalam acara talkshow di SBO TV dianggap sebagai bentuk teror dan intimidasi di dalam ruang redaksi.

“Ruang redaksi penyiaran harus steril dari pihak yang tidak berkepentingan. Penyerangan ini menunjukkan sikap kebrutalan,” kata Suwarjono di Malang, Jumat 17 April 2015.

Ditambahkan Suwarjono, jika ada pihak-pihak yang keberatan dengan pemberitaan atau protes terhadap produk siaran, disarankan melapor ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atau Dewan Pers.

“Sesuai mekanisme juga bisa meminta hak jawab,” kata Suwarjono.

Karena itu, Suwarjono meminta polisi mengusut tuntas kasus tersebut dan menangkap para pelaku. Jika kasus dibiarkan, dikhawatirkan akan terulang kasus serupa. Lantaran kasus tersebut telah mencederai kemerdekaan pers yang sedang dibangun selama ini.

Sedangkan kepada perusahaan pers dan redaksi, pemberitaan diminta untuk bersikap kritis. Sementara narasumber yang dihadirkan harus berimbang untuk memberikan kesempatan yang sama terhadap semua kelompok, agar tak menimbulkan gejolak, terutama terhadap perkara yang sensitif dan rawan konflik.

“Perusahaan pers juga jangan menjadi corong untuk kepentingan kelompok tertentu,” katanya.

Sementara itu, Ketum IJTI, Yadi Hendriana menambahkan aksi kekerasan seperti ini tidak boleh dibiarkan karena mengancam kebebasan pers dan berekspresi. Dia juga meminta polisi bertindak tegas.

“Polisi harus bertindak dan mengusut tuntas kasus ini, agar kebebasan pers yang tengah kita bangun tidak ternodai,” kata Yadi dalam keterangan pers di Jakarta.

Karena sudah di luar batas kewajaran, IJTI menyerukan beberapa hal:

1. Meminta kepada masyarakat untuk menahan diri, dan jika tidak puas terhadap suatu pemberitaan agar melaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers.

2. Menyerukan kepada suruh jurnalis televisi, para pemangku acara yang berkaitan dengan news di televisi agar memperhatikan dan memegang teguh prinsip-prinsip keberimbangan sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik

3. Tindakan penyerangan tersebut adalah upaya menghalangi tugas jurnalistik, karena dilakukan pada saat on air di studio yang merupakan ruang private broadcast. Pelaku harus dijerat oleh UU Pers No. 40 Tahun 1999 dan KUHP

Aksi kekerasan di SBO TV Surabaya ini terjadi saat program dialog akan berakhir sekitar 10 menit lagi. Sebelum program berakhir, tiba-tiba muncul sejumlah orang yang membuat onar serta melakukan penamparan terhadap salah satu narasumber dalam dialog tersebut.

Diskusi di SBO TV membahas dualisme klub Persebaya Surabaya. Diskusi yang dikemas dalam acara Jurnalis Club itu awalnya berjalan normal.

Tapi sebelum acara selesai, sejumlah orang tak dikenal masuk studi dan memukul Saleh Ismail Mukadar, Direktur Persebaya 1927. Selain Saleh, narasumber lainnya adalah mantan Ketua Umum Persebaya Arif Afandi, mantan pelatih Persebaya Fredy Mully, dan pengamat sepakbola Andy Slamet.

Tiga orang berbadan kekar yang diketahui anggota sebuah ormas kepemudaan itu juga membanting pot properti studio sebelum menampar pelipis Saleh saat siaran sedang mengudara secara langsung.

AJI Indonesia Menggelar Web Development Training

“Memenuhi hal tersebut, peningkatan mutu SDM melalui pelatihan dalam pengembangan web serta media sosial yang berisi informasi berita, menjadi sangat penting,” tegas Sekretaris Jendral (Sekjen) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Arfi Bambani Amri, dalam rilisnya kepada katakini.com.

Dalam upaya meningkatkan kapasitas anggota dan organisasi dalam disiminasi informasi melalui internet berbasis web dan social media (sosmed) ini, AJI Indonesia bekerja sama dengan Development and Peace (D&P) Canada, menggelar “Web Development Training”, pada 18-19 April 2015, di Hotel Morrissey, Jakarta.

Pelatihan ini diharapkan dapat mendorong jurnalis agar menggunakan web dan sosmed, untuk menyebarluaskan isu-isu terkait perdamaian, kaum marjinal dan isu lingkungan, yang belum menjadi fokus utama media mainstream.

“Isu media online sekarang, lebih banyak berkutat isu seputaran Jakarta dan nasional, karena terpusatnya kepemilikan media. Padahal, daerah memiliki berbagai macam persoalan yang perlu diinformasikan pada publik. Dengan adanya penyebaran informasi daerah, diharapkan menjadi wacana nasional yang harus ditangani oleh pemangku kepentingan,” sambung Arfi.

Pelatihan tersebut akan diikuti oleh anggota AJI dari 10 kota, diantaranya Kendari, Makassar, Palu, Medan, Pekanbaru, Bengkulu, Kediri, Pontianak, Mataram, Ambon, serta tambahan dari Bandung dan Jakarta.

“Dengan potensi yang dimiliki AJI, akan bisa lebih mendorong isu-isu yang belum dilirik media mainstream,” tandas Sekjen AJI Indonesia.

Jurnalis Kompas TV Pimpin AJI Kendari

AJI Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari yang merupakan salah satu organisasi bagi jurnalis yang diakui Dewan Pers, kembali melakukan pemilihan terhadap kepengurusan AJI Kendari Periode 2013-2016.

Dalam pemilihan kali ini, pasangan Zainal Ishaq-Suwarjono unggul mengalahkan pasangan Ishak Junaedy-Arifuddin Mangka, dengan perolehan suara sebanyak 26, sementara pasangan Ishak Junaedy-Arifuddin Mangka hanya mendapatkan 7 hak suara. Sebelumnya, AJI Kendari dipimpin oleh Midwan dan Zainal Ishaq sebagai sekretaris.

Pemilihan anggota AJI kali ini diikuti oleh 33 peserta anggota AJI yang tidak hanya berasal dari Kota Kendari, melainkan beberapa wartawan daerah yang berasal dari Kabupaten Konawe, Bombana dan Kolaka Timur.

Midwan selaku Ketua AJI Kendari Demisioner mengatakan, sebagai anggota AJI, maka seluruh anggotanya harus tetap menjaga independensinya, apalagi momentum pemilu yang sudah semakin dekat.

“Kita harus tetap menjaga bagaimana nilai-bilai dan moral tetap menjadi bagian dari AJI dan kita harus tetap bertekad agar AJI bisa menjadi parameter yang baik bagi organisasi wartawan lainnya,” pesannya.

Menurutnya, anggota AJI harus bisa membuktikan bahwa AJI merupakan suatu organisasi yang selalu mengedepankan independensinya dan tidak dapat dibeli hanya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan politik menjelang pemilu 2014.

Abraham, perwakilan AJI Indonesia juga berpesan kepada anggota AJI khususnya AJI Kota Kendari agar terus menjaga integritasnya dan terus melakukan verifikasi terhadap anggota AJI yang ada saat ini.

“Pemilihan dan penerimaan anggota AJI ini harus diverivikasi, kita harus membuktikan bahwa pengurus AJI merupakan jurnalis handal dan jelas medianya, tidak ada anggota AJI yang bukan jurnalis apalagi wartawan bodrex,” ujarnya.

Sementara itu, jurnalis Kompas TV, Zainal Ishaq, yang baru saja terpilih mengatakan bahwa ia dan sekretarisnya, Suwarjono, akan berusaha untuk tetap menjaga nilai-nilai dan semangat perjuangan AJI.

“kami berkomitmen untuk menjalankan seluruh program yang telah dipercayakan oleh AJI Indonesia. Selain mengembangkan kapasitas jurnalis didaerah sultra, yang tidak kalah penting adalah tetap menjaga integritas,” katanya.

Sebelumnya pelaksanaan konferta atau pemilihan ketua yang baru tersebut, dua hari sebelumnya AJI Kendari telah melakukan training penulisan berita lingkungan dan penerimaan anggota AJI, sehingga saat ini jumlah anggota AJI Kendari yakni sebanyak 91 jurnalis yang berasal dari beberapa media berbeda. (LINA)

Puluhan Jurnalis Training Penulisan Berita Lingkungan

AJI Kendari, Sejumlah jurnalis dari beberapa daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) menjalani training terkait berita lingkungan. Training tersebut dilakukan oleh AJI Kendari yang bekerja sama dengan D&P.
Antusias jurnalis untuk mengikuti pelatihan tersebut tidak lepas dari rasa ingin tahu para jurnalis yang ingin lebih mendalami penulisan tentang isu lingkungan.

Ketua AJI Kendari, Midwan, mengatakan bahwa pelatihan yang dilakukan hari itu betujuan untuk menambah pengetahuan para jurnalis yang selama ini tidak terlalu paham terkait teknik penulisan berita lingkungan.

Realitas keadaan lingkungan yang ada di Sultra saat ini juga tentu tidak luput dari perhatian media, mulai dari pemanfaatan sumber daya alamnya hingga berbagai kerusakan yang terjadi akibat terabaikannya lingkungan sekitar.

“Isu lingkungan yang menjadi perhatian serius karena realitas Sultra selama ini terkait pengelolaan sumber daya alamnya yang selalu bermasalah,” kata Midwan.

Akibat dari kerusakan linkungan tersebut, sehingga banyak hak dari masyarakat yang masih perlu diperjuangkan.

“Peran media ketika mengangkat isu lingkungan tentu akan berimplikasi yang sangat besar kepada masyarakat, ketika media mampu mengangkat solusi terbaik bagi masyarakat maka akan mendatangkan kebaikan bagi semua karena jika media saja tidak mampu memberikan solusi atau mengkritik terkait kerusakan lingkungan yang terjadi, maka tidak ada lagi yang akan melakukan berbaikan terhadap daerah,” ujarnya.

Ia berharap melalui training yang dilakukan hari itu, dapat menjadikan motivasi kepada para jurnalis untuk mengangkat isu lingkungan.

Ulfah, salah seorang jurnalis media cetak yang menjadi peserta training hari itu mengatakan bahwa dengan pelatihan yang diikutinya dapat menambah pengetahuannya yang selama ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi saja.

“Dengan adanya pelatihan yang dilakukan hari ini akan memberikan tambahan pengetahuan bagaimana cara menulis berita lingkungan yan baik dan benar, selama ini saya hanya belajar otodidsk meskipun sudah beberapa kali mengikuti liputan lingkungan tapi belum ada pelatihan seperti ini,” katanya.

Pelatihan yang dilakukan hati itu, tidak hanya sebatas pelatihan biasa saja, tapi AJI Kendari yang bekerja sama dengan D&P akan memberikan beasiswa peliputan kepada 12 jurnalis terpilih yang dinilai TORnya memenuhi persyaratan. (LINA)

aji kendari Gelar FGD Lingkungan

AJI Kendari Gelar FGD Lingkungan

AJI Kendari, Organisasi wartawan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari menggelar fokus group diskusi (FGD) terkait isu lingkungan terkini di Sultra.

Kegitan FGD yang menghadirkan para petinggi media massa, akademisi dan para jurnalis se kota kendari ini mengangkat tema “komitmen media massa menggali dan mengangkat isu lingkungan” di salah satu hotel di Kendari.

Dalam FGD terungkap sejumlah problem kenapa media massa kurang mengangkat masalah-masalah secara mendalam dan hanya mengangkat problem secara dangkal dan tidak konfrehensip.

“Kita harap isu lingkungan tidak hanya terkait soal ikan, hutan, banjir, tetapi media dapat menggali lebih dalam tentang problem lingkungan khususnya di Sultra yang semakin kompleks saat ini,”kata Oktovianus salah satu jurnalis dalam kegiatan FGD.

Ada banyak isu lingkungan dengan pengelolaan lingkungan yang keberlanjutan misalnya, tentang inisiatif yang dilakukan komunitas atau masyarakat tentang hutan keberlanjutan yang kini tengah dilakukan dibeberapa daerah.

Selain kelompok jurnalis, harapan yang sama juga muncul dari para akademisi akan komitmen kuat dari para pekerja dan pemilik media massa untuk mengangkat isu-isu lingkungan yang spesifik. Berita lingkungan, saat ini dinilai para jurnalis masih sangat minim. Belum kuatnya kapasitas wartawan  menulis berita lingkungan serta  kebijakan redaksi yang kurang memberikan ruang pada isu-isu lingkungan  menjadi problem utama dari terpinggirkannya lingkungan dari pemberitaan.

Ini dapat dilihat dari hasil monitoring pemberitaan lingkungan di media massa lokal Sultra, dimana  rata-rata penyajian berita lingkungan secara berkala dan kurang intens. AJI Kendari melansir medis seperti Kendari Pos, Rakyat Sultra dan ANTARA dalam sebulan hanya dapat menyajikan berita lingkungan antara 5 sampai 15 berita setiap bulannya dengan ragam tema berita.

Sumber : Suarakendari.com

 

 

Wartawan Bodrex Marak, AJI Kendari Bekali Kades di Konawe

AJI Kendari, menyusul maraknya aksi pemerasan yang sering dilakukan oknum-oknum yang mengaku sebagai insan pers dibeberapa wilayah di Kabupaten Konawe, membuat Pemerintah setempat melalui Bagian Humas dan Sandi Sekertariat Pemda Konawe bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Indefendend (AJI) Kota Kendari membekali para Kepala Desa (Kades) dan Lurah se-kecamatan Wawotobi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang mengusun tema “Peran Wartawan dalam Pembangunan Daerah,” yang selenggarakan di aula rapat kecamatan wawotobi.
Ketua AJI Kota Kendari Zainal Abidin Ishaq menjelaskan, wartawan yang sebenarnya adalah yang membErikan informasi publik dengan berimbang serta dalam melaksanakan tugas peliputannya, wartawan dibekali dengan kartu tanda pengenal (Id Card) atau surat tugas dari media masing-masing.
Selain itu, kata Zainal, seorang wartawan tidak pernah memponis narasumbernya bersalah, disisi lain seorang jurnalis media cetak ataupun elektronik selalu berpegang pada kode etik jurnali serta tidak pernah mengancam narasumber.
“Jadi untuk menghadapi wartawan bodrex ini, kita harus tenang dan jangan panik, kalau mereka berkunjung sambut saja dengan santai, kemudian tanyakan dia dari media mana? meminta identitas wartawannya atau surat tugasnya, kalau orang tersebut tidak memperlihatkan salah satunya, maka kita wajib untuk menolak diwawancara, dan kalau perlu usir saja mereka kaluar,” kata Zainal.
Menurut Zainal, saat ini wartawan abal-abal sering sekali dijumpai dan bergai cara ditempuh demi memuluskan aksi oknum-oknum tersebut. Bahkan mereka sering sekali mengancam orang-orang yang menjadi tergetnya. Anehnya, wartawan abal-abal ini dalam melaksanakan aksinya selalu dilengkapi dengan tanda pengenal, tetapi ketika ditelusuri media yang mempekerjakan mereka tidak pernah ada atau tidak jelas bagaiman bentuk media tersebut.
“Jadi saya minta, kalau ada wartawan yang datang mengancam dengan tujuan untuk meminta sejumlah uang, silahkan laporkan ke kepolisian setempat, dan kalau kalian tidak berani, silahkan lapor ke sekertariat AJI Kendari, nanti kami yang akan fasilitasi untuk meneruskan laporan tersebut. Yang penting kalian tahu nama oknumya siapa? Dan medianya apa?” kata Inal, begitua ia disapa.
Kegiatan yang diikuti seluruh Kepala Desa (Kades) dan Lurah se-Kecamatan Wawotobi serta seluruh staf Kecamatan Wawotobi ini, dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang peran jurnalis yang benar untuk kemajuan pembangunan di daerah.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua pemateri dari AJI Kendari yakni Ketua AJI Zainal A Ishaq dan Sekertaris AJI, Suwarjono. Sumber : Zonasultra.com